Kamis, 26 Agustus 2010

" ARTI MEMBACA DAN CERDAS"

ARTI MEMBACA DAN CERDAS

Setiap individu manusia, memiliki, persepsi masing masing tentang makna suatu risalah, sesuai dengan tingkat akal pemikirannya. Dan itu merupakan hak azasi setiap manusia. Kebebasan akal pikiran maupun nalar seseorang, untuk mencermati hikmah yang terkandung dalam sebuah risalah, merupakan sebuah usaha tersendiri guna memberikan pengertian pada dirinya, dengan mendekatkan penafsiran pada bentuk cara berfikir logika.
MEMBACA, sebuah bentuk kata, yang bagi penulis memiliki bentuk risalah yang sangat penting untuk dikaji lebih jauh, sebab selama ini makna membaca, belum memiliki Definisi yang baku. Oleh karena itu, dalam pandangan kami, bahwa MEMBACA terdiri 2 (Dua) cara , yaitu,

1. Membaca gambar (Termasuk bentuk tulisan dan bentuk gambar)
2. Membaca isyarat (Termasuk membaca situasi dan perasaan)

Didalam manusia membaca, ada 3 (Tiga) bentuk bacaan, yaitu,

1. Kitab.
2. Alam semesta, beserta isinya,
3. Manusia.

Walaupun tidak dapat dipungkiri bahwa, salah satu jalan bagi manusia untuk mencerdaskan dirinya, adalah dengan cara banyak membaca buku. Namun kalau hanya buku sebagai pegangan bacaan, apalagi kalau tidak mampu memahami sesuatu makna yang tersirat dalam baca buku, maka tidak menutup kemungkinan manusia tersebut, bukannya, tambah cerdas, malah tambah bodoh, karena hampir seluruh buku buku yang dijual sekarang, hanya merupakan saduran atau terjemahan dari buku buku lain, secara turun temurun, bak hadits yang diriwayatkan secara turun temurun oleh perawinya, kalau diteliti secara cermat, sedikit sekali buku buku, utamanya buku ilmiah, yang merupakan hasil pemikiran murni seorang penulis, bangsa Indonesia, apalagi buku buku Agama, Dengan banyak membaca buku, tanpa mampu membaca yang lainnya, maka akan membuat manusia pintar, ibarat katak dalam tempurung. Sebab akal pemikirannya, telah dikuasai dan dibalut dengan berbagai keterangan hasil pemikiran orang lain sehingga akal pikirannya, lalu jadi beku dan tidak mampu ia kembangkan.
Berbagai fenomena kehidupan, betapa kecerdasan tidak hanya dapat diukur dari membaca buku, karena siapa yang meragukan kepintaran Dua mantan Kabulog, Dua mantan Gubernur Bank Indonesia, Gubernur, dan lain lain, kita tidak tahu berapa banyak buku yang telah dibaca, berapa puluh meter susunan buku literature yang ada padanya, namun pada kenyataannya, ia harus masuk penjara, harga diri dan martabat lalu jatuh, karena hasil perbuatan secara sadar ia lakukan, lalu kemudian kita bisa bertanya, cerdaskah mereka
Munculnya berbagai temuan teori ilmiah baru menurut zamannya, lebih banyak ditemukan dari hasil perenungan, dan penelitian, lalu hasilnya kemudian dibukukan. Sebagaimana diketahui bahwa Teori Gravitasi, yang ditemukan oleh Isaac Newton, bukan dari membaca buku, tapi dari hasil perenungan tentang fenomena Alam. Apalagi kalau tingkat kecerdasan hanya diukur dengan buku, maka lalu kita bertanya, pada ummat Islam bahwa Apakah Rasulullah Nabi Muhammad SAW, terlepas dari segalanya sebagai manusia biasa, apakah ia Cerdas ? sebab kenyataannya, ia tidak bisa membaca. Dan mengapa Rasulullah tidak bisa membaca? Bukankah kalau Allah SWT mau mengajar Nabi Muhammad SAW membaca, cukup ia berkata Kun faya kun. Mengapa Rasulullah dibiarkan begitu saja tidak bisa membaca kitab hingga akhir hayatnya.. Padahal perintah yang pertama diterima ummat Islam melalui Jibril ke Rasulullah adalah Iqra (bacalah),
Begitupula bagaimana dahulu kala orang Minagkabau, dalam awal perantauannya, katakanlah ke Jakarta, mereka merantau sebagai pengusaha, mereka banyak yang sukses, dan berhasil mewariskan kesuksesannya, pada generasi penerusnya, mereka memiliki kiat kiat dagang secara naluri, yang tidak ia dapatkan dari membaca buku, teori membuka jualan dengan istilah Pedagang Kaki Lima, diciptakan orang padang tanpa melalui membaca buku. Dan tentunya orang orang ini dapat dikatakan sebagai orang Cerdas.
Begitupula, Orang orang Bugis yang meniti buih di samudera luas, Ilmu yang didapatkan untuk menentukan arah, karang, daratan terdekat, bukan dari buku, itu ia belajar membaca fenomena Alam,
Disebuah desa, namanya Tanjung Bira, dimana perahu Phinsi dibuat, oleh orang orang Ara. Pernah kedatangan, team dari Jepang yang ingin memesan Perahu Phinisi, sambil menyodorkan gambar perencanaann lengkap dengan ukuran ukuranya, perahu yang akan dipesan, oleh kepala tukang perahu, dijawab bahwa mereka tidak bisa baca gambar, kalau anda mau pesan cukup katakan saja, berapa ton kapasitas yang diinginkan, lalu orang Jepangnya bingung, sambil bertanya, jadi selama ini anda buat perahu, tidak pernah pakai gambar, dijawab oleh kepala tukang, tidak pernah pakai gambar dikertas, karena semuanya sudah tergambar di kepala. Lalu orang Jepang manggut, sambil berkata, hebat.
Lain waktu berikutnya, Bapak Prof.Dr.Ing.B.J. Habibie, juga berkunjung, ke Tanjung Bira, ingin juga menyaksikan cara orang Ara, membuat perahu Phinisi, setelah beliau sampai disana, setelah berbincang, bincang, kemudian pak Habibie, mengukur dan menghitung Perahu PhinisI yang sedang dibuat sesuai disiplin Ilmunya. Lalu kemudian ia berkata, tidak ada satupun yang meleset dari perhitungan teknologinya. Kemudian Pak Habibie bertanya, kepada kepala tukangnya tentang pendidikannya, kemudian dijawab oleh kepala tukang bahwa SD pun tidak tammat, lalu kemudian pak Habibie merenung, sambil berkata dalam hatinya, saya tidak bisa bayangkan kecerdasan orang ini, seandainya jenjang pendidikannya seperti saya.
Dari beberapa uraian tersebut, maka kami dapat menarik kesimpulan, bahwa makna ,

MEMBACA adalah, Melihat,(Merenung,mengamati) mendengar (Mengkaji, menganalisa) , mencium (menghayati, merasakan)

Sebagaimana suku bangsa lain, dalam menetapkan ciri khas orang Cerdas, orang Bugispun, memiliki pandangan tentang ciri khas orang Cerdas sebagaimana berikut ini,

1. Naiya riasennge tau macca, iyanaritu Majeppuengngi, cappana seddie pangkaukeng. ( Artinya, Yang dimaksud dengan orang cerdas adalah orang yang mengetahui dengan betul ujung dari hasil perbuatan yang akan dilakukan)
2. Nattangnga siseng lao yolo, nagiling makkita lao rominrinna ekka seppulo sedie pangkaukeng. (Artinya, Berfikir satu kali kedepan, lalu berfikir Sepeluh kali kebelakang, apa akibat perbuatan yang akan dilakukan)
3. Bali ada napasau (artinya, Mampu menjawab setiap pertanyaan dengan tangguh
4. Molai ada naparapi (artinya, Mampu menangkap ketika ia mengejar pertanyaan)
5. Matui ada nattukenna ( Ketika ia berkata, ada manfaatnya

Sebelum mengakhiri Tulisan ini, penulis ingin mengisahkan sebuah dialog pada abad ke XIV antara seorang Raja di Wajo, dan seorang yang terkenal cendekiawan pada saat itu, yang bernama Kajao Lalido.

Raja bertanya : Apa Kesaksian terhadap sebuah Kejujuran.
Kajao, : Panggilan.
Raja : Apa kesaksian terhadap sebuah Kehormatan
Kajao : Panggilan.
Raja : Apa kesaksian terhadap sebuah Kebenaran
Kajao : Panggilan
Raja : Apa kesaksian terhadap sebuah Keberanian
Kajao : Panggilan
Raja : Apa kesaksian terhadap Panggilan itu sendiri.
Kajao : PENGABDIAN
Dialog ini sangat mendalam sekali bila kita mau menghayati, dan mendalami, untuk diimplementasikan dalam semua aspek kehidupan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar